4 September, 2009

Trio Embul & Suatu Pagi di Rumah Kami

mulai sarapanIseng-iseng lihat foto anak-anak, eh.. dapat satu album foto trio embul yang lagi kembul (makan bareng dari satu piring). Begitu lihat momen ini di suatu pagi di rumah kami, spontan si Abi ngambil kamera dan mengabadikannya…

tak lupa baca do'a “Bismillaah…”

triokembul

trio “embul-kembul” tampak atas                                                                                  

lagi enak2 makan, dipanggil…,”Yasmin…!”

yasmin & mienya

27 Agustus, 2009

Masih tentang Khalid….

Sekian lama nggak nge-blog, akhirnya kangen juga.  Setelah didera rentetan urusan sekolah si Mas (Khalid), bolak-balik Jakarta- Sidoarjo untuk urusan tupperware, dan efek dari semua keletihan itu….flu & batuk berkepanjangan.

Tibalah takdirnya bagi saya saat ini, nengok blog & fb. Lalu tergerak nulis lagi…

Ternyata, ditinggal pergi anak sekolah ke tempat yang jauh dari rumah, lumayan menyesakkan. Seperti sebuah ruang yang semula selalu ramai, tiba2 jadi kosong. Sepi. Hampa. Yang tersisa hanya ngiang kenangan keramaian itu. Setiap kali masuk kamar anak-anak, ingat Khalid. Mau masak, ingat Khalid. Mau tidur, ingat Khalid. Nyaris seperti lagu Dina Mariana itu:  “Aku mau makan, ingat kamu… dst”

Tapi meskipun begitu, saya ikhlas kok… (InsyaAllah). Karena itu sudah jadi keinginan dan niat dalam diri kami sekeluarga.  Cuma ya, “rasa baru” itu ternyata cukup “menggigit”, saya baru tahu.

Syukurnya, di hari pertama menyerahkan si Mas ke sekolah berasrama itu, pihak SMP Ar-Rohmah Putra Malang mengadakan orientasi orang tua siswa/santri. Hari itu, Sabtu 18 Juli 2009, selain dihibur dengan pertunjukan yang menarik hasil kreasi siswa, kami para orang tua juga diberi pengarahan dan pembekalan yang sangat komplit (yang menurut saya, membesarkan hati para orang tua) dari direktur LPI Ar-Rohmah Hidayatullah Malang beserta jajaran Kepala Sekolah, Kepala Pesantren dan Kepala Asrama. Pada saat itu pertanyaan bernada keraguan dari kebanyakan benak orang tua mendapat jawaban yang melegakan. Termasuk seorang ibu dari Bali yang hawatir di sekolah itu anaknya nanti akan tumbuh menjadi seorang teroris, juga mendapat jawaban dan penjelasan yang baik dari direktur LPI Ar-Rohmah.

Bagaimana dengan Khalid di hari itu? Ternyata juga, ia begitu ceria & bersemangat memasuki kamar barunya, menikmati lapangan futsal di depan kamarnya, main basket di depan kamar anak SMA, dan menjelajah ruang gerak barunya seluas +/- 2 hektar…. Sepertinya ia sangat menikmati kebebasannya! Tidak sedikitpun raut kesedihan tergambar di wajah pubernya yang mulai berjerawat 3-4-5 itu….

Maka begitulah akhirnya pelepasan anak lanangku hari itu, berlangsung nyaris tanpa air mata. Padahal biasanya saya sangat obral air mata, sampai-sampai sahabat se-kos saya dulu punya julukan untuk itu: “air mata buaya”. Tapi kali itu, sungguh, Khalid & sekolah barunya membuat hati ini cukup tentram hingga sedih pun tak begitu terasa.

Seperti suntikan obat bius yang mengurangi rasa sakit, yang akan segera berdampak setelah daya biusnya hilang. Itu pula yang terjadi dengan saya setelah beberapa hari kembali ke rumah yang minus Khalid. Tiba-tiba, saya punya keinginan kuat untuk ingin tahu kabarnya, dia lagi apa, ada kesulitan yang ditemuinya kah, dsb. Syukurnya lagi, pihak Ar-Rohmah melarang siswa/santri membawa atau memiliki HP di sana. Sehingga orang tua yang ingin berkomunikasi atau mengetahui kabar putranya cukup menghubungi pengasuh kamar anak-anak saja. Dan nanti para ustadz pengasuh inilah yang akan menyampaikan pada anak asuhnya. Makanya, saya bisa menahan diri untuk tidak bolak-balik menelpon ustadz kamarnya Khalid. Khawatir dikira kecentilan dan tidak dewasa [padahal kenyataannya......emang!!!]

Tekanan hasrat itu mungkin tidak saya sadari telah membuat diri ini kekurangan energi. Jadinya malas masak, karena yang paling semangat makan di rumah (selain saya) adalah si Mas. Dia juga senang sekali bantu-bantu saya masak. Malas beres-beres, karena yang paling kuat dan ringan tangan untuk diminta bantuannya adalah juga si Mas ini. Bahkan ayahnya pun jadi malas mbengkel saat ada kerusakan di hardtop tuanya, karena hanya Khalid lah yang paling “spek” menjadi asisten montirnya. Satu lagi, buat saya, ketidakhadiran Khalid di rumah membuat mulut ini jarang “ceramah”, karena Khalid paling suka menggoda & mengusili saya dengan komentar2 plesetan atau cengengesannya. Dan baru saya sadar, dia & “kenakalan”nya itu ternyata sangat memeriahkan ruang2 hati saya selama ini……

Mas Khalid, ummi love u, so much. Maafkan ummi ya nak…. [nangis nih, sudah dulu ya ceritanya...]

1 Juli, 2009

Berbagi Perhatian di Antara Blogger

Kejutan!!!

Tadi malam pas lagi lihat2 blog ini, saya dikejutkan dengan pemberian award dari seorang teman blogger.

Award???

Saya nggak mau tahu (cuma mau tempe) atas kriteria apa teman saya, Engeldvh, meneruskan award ini ke saya. Yang jelas saya seneng banget menerimanya. Tapi karena saya merasa bukan blogger yang baik  -blog saya juga amat sangat biasa- , saya jadi sekaligus malu untuk menerimanya. Halah….

Wis, itu gak penting.  Yang penting: penerima award harus meneruskannya ke teman yang lain.. Mungkin supaya saling berbagi & perhatian di antara sesama (blogger) kali ya….

OK, berikutnya saya sampaikan amanat promotor award bagi penerimanya:

  1. Buatlah postingan yang memuat gambar award ini di blog kamu,
  2. Sebutkan siapa yang memberikan award beserta link blognya,
  3. Hadiahkan award ini kepada 10 sahabatmu,
  4. Kunjungi blognya dan beritahukan kalau ada award dari kamu untuknya, dan
  5. Lakukan hal yang sama seperti yang memberikan award ke kamu

Jadi…….., inilah pengirim award pada saya….!!

Nama Blog: E-Cybernet

Author: Engelbert

Link Blog: http://engeldvh.wordpress.com

Ini dia Awardnya:

Award

Hijau Award

Berikutnya, saya persembahkan award ini kepada teman2 blogger saya yg begitu berharga ini:

1. Bu Dina di Perempuan Banget

2. Mbak Wyd di Kimia dan Fiksi

3. Mboke Fatih di Gendhu-gendhu rasa wong penginyongan

4. Bu Tutut di Anugrah–Trend Busana Muslim Keluarga

5. Mbak Nur di History Tracking

6. Kris Wisnu Wardhana di to to to be or not to be…

7. Novie Sartyawan di Cerita Kami

Akhirnya, terimakasih teman2…., sudah mengisi hari2 di rumah saya dengan ilmu & hikmah yang bermanfaat!

Salam Blogger!

22 Juni, 2009

Alhamdulillah…, Khalid Lulus!

Si Mas lulus! Terimakasih ya Allah…, atas anugerah & nikmat keberhasilan ini.

Hari Sabtu, 20 Juni 2009 kemarin adalah hari diumumkannya kelulusan siswa/i SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo tempat si Mas bersekolah selama 4,5 tahun ini. Kenapa cuma 4,5? Apa karena ikut akselerasi? Ha….bukan, tapi karena masa 1,5 tahun pertamanya ia bersekolah di SD Muhammadiyah 1 Jember sebelum pindah ke Sidoarjo.

Balik ke soal pengumuman lulus…

Siang itu sebenarnya yang diumumkan cuma lulus atau tidaknya aja. Itu pun diumumkan di gedung tempat gladi bersih acara wisuda purna wiyata keesokan harinya. Tapi, menurut laporan teman-teman (baca: ibu-ibu), nilai UASBN sudah bisa ditanyakan ke sekolah. Jadilah, saya berusaha mencari tahu siapa penanggung jawab daftar nilai UASBN itu. Tanya punya tanya, akhirnya diberi petunjuk untuk menghubungi pihak administrasi, Ibu Pipit atau Pak Yusuf.  Dengan membulatkan tekad dan menyiapkan hati untuk menerima berapa pun nilainya nanti, saya berangkat ke sekolah untuk menemui Ibu Pipit.

Kenapa mesti membulatkan tekad segala? Ya, sebab bagi saya menerima hasil apapun dengan ikhlas adalah sesuatu yang cukup berat. Seringkali perasaan saya ditunggangi keinginan untuk selalu melihat keberhasilan penuh dan prestasi yang tinggi dari hasil belajar anak-anak. Dan saya tahu, perasaan seperti itu musuh besar bagi orangtua. Jadi, setiap habis ulangan, mau terima rapot, dan hal-hal semacamnya, saya pasti deg-deg-an dengan sebenar-benarnya deg-deg. Betul, sampai terasa dari luar degup jantung saya berdetak kencang, dan tangan menjadi dingin. Sejak dulu pun, saat masih jadi siswa, saya juga seperti itu. Meskipun seandainya gagal saya selalu bisa menerima atau bersikap biasa, tapi saat mau pengumuman diri ini sulit untuk tenang. Begitulah teman, sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, saya tidak berani memacu motor dengan kencang. Takut menjadi makin tegang dan tidak bisa mengendalikan diri…

Dan begitu bertemu Ibu Pipit di ruang tamu Kepala Sekolah, saya makin tegang. Apalagi saat beliau mulai membacakan hasilnya…..

“Bahasa Indonesia…. delapan koma duapuluh”

Alhamdulillah… hati ini lega… Terdengar suara Ibu Pipit lagi,

“Matematika…….delapan koma nol nol”

Alhamdulillah…slamet, slamet…. dan kembali suara beliau terdengar,

“Ilmu Pengetahuan Alam……… sembilan koma duapuluh lima”

Wah…Alhamdulillah, ya Allah, sungguh tak terkira kebahagiaan dan leganya hati ini…, dan mata ini lalu tak kuasa menahan haru. Menangis atas pemberian-NYA itu…. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillahirabbil’alamin…

16 Mei, 2009

Alhamdulillah..

Meskipun belum benar-benar selesai, akhirnya satu tahapan -yang sejauh ini- paling mendebarkan, kembali telah kami lewati. Sepertinya memang tak ada yang pernah benar-benar selesai dalam hidup ini. Bahkan setelah mati pun, akan selalu ada penentuan “sukses atau gagal”. Bedanya, saat hidup, semuanya bisa diusahakan dan diperbaiki.

Tiga hari ujian nasional rupanya begitu menegangkan bagi si sulung Khalid. Sabtu sebelum ujian tiba-tiba badannya panas, cukup tinggi. Membuat saya benar-benar khawatir terhadap kesiapan fisiknya saat hari-H ujian.

Alhamdulillah, trik bapaknya mengajak jalan-jalan santai ke mall beli sepatu buat Khalid & sisters (kebetulan sepatu mereka yang kami beli 9 bulan yll memang sudah jebol disana-sini) di hari minggu, juga air rebusan daun binahong plus habbatussauda’ yang diminumnya, berhasil meredakan tingginya suhu badan Khalid yang rupanya sedang stress itu. InsyaAllah juga berkat do’a dari keluarga dan teman2 semua. Meskipun belum tahu nilainya, tapi dia bisa berangkat dan pulang ujian dengan normal saja, sudah amat sangat kami syukuri. Semoga si Mas bisa lulus SD tahun ajaran 2008/09 ini dengan nilai baik. Amin.