Sekian lama nggak nge-blog, akhirnya kangen juga. Setelah didera rentetan urusan sekolah si Mas (Khalid), bolak-balik Jakarta- Sidoarjo untuk urusan tupperware, dan efek dari semua keletihan itu….flu & batuk berkepanjangan.
Tibalah takdirnya bagi saya saat ini, nengok blog & fb. Lalu tergerak nulis lagi…
Ternyata, ditinggal pergi anak sekolah ke tempat yang jauh dari rumah, lumayan menyesakkan. Seperti sebuah ruang yang semula selalu ramai, tiba2 jadi kosong. Sepi. Hampa. Yang tersisa hanya ngiang kenangan keramaian itu. Setiap kali masuk kamar anak-anak, ingat Khalid. Mau masak, ingat Khalid. Mau tidur, ingat Khalid. Nyaris seperti lagu Dina Mariana itu: “Aku mau makan, ingat kamu… dst”
Tapi meskipun begitu, saya ikhlas kok… (InsyaAllah). Karena itu sudah jadi keinginan dan niat dalam diri kami sekeluarga. Cuma ya, “rasa baru” itu ternyata cukup “menggigit”, saya baru tahu.
Syukurnya, di hari pertama menyerahkan si Mas ke sekolah berasrama itu, pihak SMP Ar-Rohmah Putra Malang mengadakan orientasi orang tua siswa/santri. Hari itu, Sabtu 18 Juli 2009, selain dihibur dengan pertunjukan yang menarik hasil kreasi siswa, kami para orang tua juga diberi pengarahan dan pembekalan yang sangat komplit (yang menurut saya, membesarkan hati para orang tua) dari direktur LPI Ar-Rohmah Hidayatullah Malang beserta jajaran Kepala Sekolah, Kepala Pesantren dan Kepala Asrama. Pada saat itu pertanyaan bernada keraguan dari kebanyakan benak orang tua mendapat jawaban yang melegakan. Termasuk seorang ibu dari Bali yang hawatir di sekolah itu anaknya nanti akan tumbuh menjadi seorang teroris, juga mendapat jawaban dan penjelasan yang baik dari direktur LPI Ar-Rohmah.
Bagaimana dengan Khalid di hari itu? Ternyata juga, ia begitu ceria & bersemangat memasuki kamar barunya, menikmati lapangan futsal di depan kamarnya, main basket di depan kamar anak SMA, dan menjelajah ruang gerak barunya seluas +/- 2 hektar…. Sepertinya ia sangat menikmati kebebasannya! Tidak sedikitpun raut kesedihan tergambar di wajah pubernya yang mulai berjerawat 3-4-5 itu….
Maka begitulah akhirnya pelepasan anak lanangku hari itu, berlangsung nyaris tanpa air mata. Padahal biasanya saya sangat obral air mata, sampai-sampai sahabat se-kos saya dulu punya julukan untuk itu: “air mata buaya”. Tapi kali itu, sungguh, Khalid & sekolah barunya membuat hati ini cukup tentram hingga sedih pun tak begitu terasa.
Seperti suntikan obat bius yang mengurangi rasa sakit, yang akan segera berdampak setelah daya biusnya hilang. Itu pula yang terjadi dengan saya setelah beberapa hari kembali ke rumah yang minus Khalid. Tiba-tiba, saya punya keinginan kuat untuk ingin tahu kabarnya, dia lagi apa, ada kesulitan yang ditemuinya kah, dsb. Syukurnya lagi, pihak Ar-Rohmah melarang siswa/santri membawa atau memiliki HP di sana. Sehingga orang tua yang ingin berkomunikasi atau mengetahui kabar putranya cukup menghubungi pengasuh kamar anak-anak saja. Dan nanti para ustadz pengasuh inilah yang akan menyampaikan pada anak asuhnya. Makanya, saya bisa menahan diri untuk tidak bolak-balik menelpon ustadz kamarnya Khalid. Khawatir dikira kecentilan dan tidak dewasa [padahal kenyataannya......emang!!!]
Tekanan hasrat itu mungkin tidak saya sadari telah membuat diri ini kekurangan energi. Jadinya malas masak, karena yang paling semangat makan di rumah (selain saya) adalah si Mas. Dia juga senang sekali bantu-bantu saya masak. Malas beres-beres, karena yang paling kuat dan ringan tangan untuk diminta bantuannya adalah juga si Mas ini. Bahkan ayahnya pun jadi malas mbengkel saat ada kerusakan di hardtop tuanya, karena hanya Khalid lah yang paling “spek” menjadi asisten montirnya. Satu lagi, buat saya, ketidakhadiran Khalid di rumah membuat mulut ini jarang “ceramah”, karena Khalid paling suka menggoda & mengusili saya dengan komentar2 plesetan atau cengengesannya. Dan baru saya sadar, dia & “kenakalan”nya itu ternyata sangat memeriahkan ruang2 hati saya selama ini……
Mas Khalid, ummi love u, so much. Maafkan ummi ya nak…. [nangis nih, sudah dulu ya ceritanya...]