Saking bosannya baca berita online & fesbukan…, saya pikir lebih baik menulis tentang apa yang sedang saya pikirkan…
Kali ini tentang rasa ke-ibu-an & ke-orang tua-an saya.
Teman, hampir setiap saat sejak jadi ibu, selalu saya lewati bersama anak-anak. Saat bayi saya jaga mereka di rumah. Saat baru masuk TK, saya menunggu mereka di sekolah, paling tidak saat menjemput atau pas ada latihan untuk lomba, atau karena saya juga suka sok sibuk ikut2an rapat di sekolah mereka. Lalu saat mereka SD, hampir pasti saya selalu ada di rumah saat mereka datang. Kalau tidak, saya jemput mereka dari sekolah untuk ikut pergi ngider bersama saya. Demikianlah kira-kira gambaran hari-hari yang saya lewatkan bersama mereka, para anggota trio embul.
Sampai suatu ketika…tiba saatnya saya putuskan kuliah AKTA IV untuk mendapatkan sertifikat mengajar. Saat-saat perkuliahan tentu saja, anak-anak harus saya tinggal. Kuliahnya tiap Jum’at & Sabtu sore sampai malam/petang. Hanya 2 kali dalam sepekan, tidak lebih dari 10 jam. Itupun saat istirahat persiapan sholat maghrib tiba, saya pasti pulang lalu kembali lagi ke kampus setelah maghrib-an & menyiapkan makan malam. Tak sampai 8% dari 7 x 24 jam waktu yg ada, saya tinggalkan mereka….
Tapi ternyata itu sudah cukup membuat trio embul mengajukan protes beruntun. Hampir setiap saat mau berangkat kuliah, mereka bilang, “Nggak usah kuliah po-o Mi…” (plus disertai mimik wajah melas yang sulit saya gambarkan). Yang suka protes bukan cuma si kecil Yasmin, Khalid si lelaki sulung itu pun suka. Ia bahkan berani bertanya kritis, “Buat apa sih, Umi kuliah lagi? Dulu kan sudah….”
Menjawab pertanyaan mereka, seringkali jawaban saya (kalo sekarang dipikir2 lagi) terasa egois. Seperti, “Ya, Umi kan juga butuh menuntut ilmu”.
Kadang agak ndalil seperti ini, “Lho, dalam Islam kan diperintahkan untuk menuntut ilmu sampai ke liang lahat, ke negeri Cina..”.
Bahkan pernah juga saya jawab dengan hal yang nggak masuk akal seperti ini, “Masa Umi di suruh nungguin rumah terus, otak Umi bisa beku nanti….” (Astaghfirullah3x)
Apalagi saat tiba masanya ngajar (PPL) di SMK Teknik yang jaraknya kurang lebih 20 km dari rumah. Tiga hari dalam sepekan selama +/- 1,5 bulan, saya harus pergi mengajar atau sekedar piket di sana. Berangkat jam 6 pagi, pulang jam 2. Sebenarnya nggak lama kan, teman?
Tapi anak saya…..tampak begitu menderita seperti korban bencana alam….
Yasmin yang TK, tiap saya jemput di sekolahnya hampir selalu dalam keadaan sedih dan kuyu (meski nggak nangis). Aufa & Khalid yang pulang naik antar jemput sekolah, sudah di rumah. Wajah keduanya juga nggak kalah melas & lesu dibanding Yasmin.
Sampai ngilu hati ini dibuatnya. Alhamdulillah, kuliah akhirnya selesai juga, dengan hasil yang sangat tidak mengecewakan pula. Benar-benar seperti makan permen bolong yang bikin terasa plongg…., mendinginkan, melegakan.
Sekarang tinggal keputusan untuk mengabdikan diri sebagai guru. Banyak kesempatan terbuka lebar sebenarnya, apalagi relasi & koneksi di dunia pendidikan sudah terjalin baik. Tetapi…lagi-lagi saya harus menimbang & berpikir. Tentang berapa lama jam mengajar yang harus saya jalani dalam sepekan. Tentang konsekuensi dari status kepegawaian saya dalam sebuah institusi pendidikan formal. Tentang harus adanya pembantu rumah tangga yang bisa diamanahi mengurus rumah & anak-anak selama saya tinggal. Tentang kesempatan meluangkan waktu membimbing belajar anak saya sendiri. Dan, yang paling dalam: tentang perasaan mereka, trio embul….
[Bagaimana dengan suami? Sebetulnya ia sangat mendukung dan tidak ada masalah, selama saya bisa enjoy & membagi waktu dengan baik.]
Begitu berlarut-larut pemikiran & pertimbangan itu, sampai akhirnya tak terasa 3 bulan berlalu tanpa tindak lanjut yang jelas. Dan selama itu pula hari-hari saya kembali seperti sedia kala sebelum kuliah. Anak-anak tampak riang & bersemangat.
Selesai? Belum…. karena ternyata saya masih berkesempatan mengalami “petualangan” yang lebih seru lagi sesudahnya.
Menginjak bulan ke-4 setelah lulus, tiba-tiba saya ditawari promosi naik ke level manager di usaha penjualan langsung sebuah produk rumah tangga buatan Amerika. Sebetulnya keanggotaan saya di sana tidak diawali niat agar bisa naik ke level berikutnya. Saya cuma pengen jadi anggota biar dapat diskon besar saja, mengingat harga beli produk itu yang tergolong mahal. Entah atas pertimbangan apa, teman yang merekrut saya (di level manager) memberikan kesempatan pada saya untuk mencoba jadi manager. Setelah minta saran & mendapat ijin dari suami, akhirnya saya terima penawaran itu.
Maka mulailah saya (plus suami & anak-anak, tentu) masuk dalam babak baru kehidupan kami, dimana saya bekerja sampingan menangani sebuah unit penjualan produk rumah tangga….
Kali ini ada modal yang harus disertakan, karena ini bisnis perdagangan. Demikianlah, selain berkutat dengan perputaran modal & barang, saya juga kemudian menjadi sangat disibukkan dengan membangun & memelihara jaringan penjualan/pemasaran. Sungguh teman, buat saya ini pekerjaan yang sangat menguras emosi, tenaga, dan pikiran. Saya jadi lelah hati & pikiran, dan sepertinya juga jadi lemah iman. Betapa tidak, setiap awal bulan saat keluar produk-produk promo, saya harus memasarkannya dan mencari downline baru. Begitu dapat order, saya harus bisa menyusun order-an tersebut dalam format yang sudah ditetapkan oleh distributor pusat sebagai syarat aktivitas kemanajeran saya setiap pekan dalam bulan promo berjalan. Belum lagi, aktivitas pesan-bayar-ambil barang di kantor distributor cabang yang sangat menyita waktu karena harus ditunggui/dicek satu persatu. Setelah dapat barang pun saya masih harus berjuang keras mengangkutnya sampai ke rumah dengan kendaraan yang saya punya, yaitu motor. Kenapa harus berjuang keras? Karena sekali bawa bisa sampai 2 kardus yang masing-masing berdimensi 60cmx60cmx60cm, itu pun kadang masih ditambah 1-2 tas besar…..
Belum lagi, masih harus mengantar pesanan pelanggan/anggota…
Begitulah gambaran repotnya menjalani profesi baru itu. Bagaimana dengan anak-anak? Wah, kali ini mereka nggak cuma merajuk meminta saya tidak pergi…tapi juga protes keras meminta saya untuk berhenti berbisnis. Khalid, si lelaki sulung itu adalah yang paling keras protesnya. Dia sampai pernah tidak mau bicara dengan saya gara-gara peringatannya tidak digubris. Bahkan, saking pedulinya si Mas ini dengan aktivitas ibunya, saat sudah di asrama pun dia masih sempat bertanya, “Umi masih sibuk di tupperware?”
Di tengah kerepotan itu, saya masih berusaha melewatkan waktu bersama anak-anak. Caranya, saya baru pergi setelah anak2 berangkat sekolah, dan berusaha sudah sampai rumah saat Yasmin -ketika itu sudah kelas 1 SD- pulang dari sekolah. Atau kalau tidak bisa, menjemputnya di sekolah, lalu mengajak Yasmin & melanjutkan aktivitas saya sampai tiba waktunya Aufa & Khalid pulang sekolah jam 2 siang. Atau kadang, saya putuskan untuk keluar rumah setelah semua anak pulang dari sekolah, kemudian saya tingggalkan mereka di rumah bertiga. Begitu hampir setiap hari dalam sepekan.
Oya, saya belum punya pembantu ketika itu. Jadi, semua kesibukan di atas adalah tambahan dari aktivitas standar ibu rumah tangga sehari-hari: masak-nyuci-beres2.
Meskipun anak-anak protes, waktu itu saya tidak bergeming. Ternyata, uang lebih kuat berbicara. Ya teman, itulah alasan yang paling sering saya utarakan saat berdalih dari tuntutan mereka. Saya bilang, “Ini jualan Nak. Umi harus kulakan pakai uang sendiri dulu. Biar uangnya kembali dan dapat untung, Umi harus terus berjualan.”Tapi kadang, saya juga masih bisa ndalil, begini, “Rasulullah itu pedagang. Kata beliau, Allah membuka pintu2 rizqi, sembilan diantaranya untuk pedagang…”
Dan seperti biasa, setelah saya bicara panjang lebar yang nggak jelas, mereka, trio embul itu, dengan segala kepolosan dan pengertiannya akhirnya bisa menerima alasan2 kesibukan saya.
Suasana seperti itu mewarnai hari-hari saya dengan kelabu. Setengah hati saya paksakan diri menjalani pilihan ini. Ngilunya, terasa lebih bertubi-tubi. Dalam sujud saya dihadapan-Nya, saya memohon petunjuk untuk melanjutkan atau menghentikan ini semua. Saya merasa, apa yang saya kerjakan sudah masuk kategori berlebih-lebihan. Perasaan anak-anak, waktu belajar mereka yang tidak lagi maksimal bisa saya dampingi, dan saat-saat berkumpul bersama di hari sabtu/ahad juga harus ternodai oleh aktivitas jualan+pemasaran ini. Apalagi, kali ini beberapa kali saya harus pergi ke luar kota untuk menjalani pelatihan atau menikmati privilege atas keberhasilan meraih target penjualan.
Alhamdulillah, di tengah meningkatnya penjualan unit yang saya tangani, Allah SWT memberi anugerah kehamilan yang ke-4 ini. Sepertinya itu jawaban atas keraguan hati ini. Tapi di awal2 kehamilan saya masih belum merasakannya. Buktinya, sambil hamil muda, saya masih keliling jualan & terus membangun jaringan pemasaran. Masih juga berusaha meraih target penjualan yang lebih tinggi lagi. Padahal waktu itu kondisi fisik saya mulai memberi peringatan. Saat usia kehamilan 4 bulan-an saya diare berat. Tapi masih juga bandel pergi ke Jakarta hampir seminggu. Lalu saat hamil 5 bulan-an kembali tetap berangkat ke Jakarta 4 hari. Selama di sana dan sampai pulang kembali saya didera flu & batuk yang cukup parah & berkepanjangan sampai hampir 2 bulan.
Di sela-sela kepergian itu Khalid menghadapi UNAS, lalu masuk asrama. Ia seperti tiba-tiba tercerabut dari kehidupan saya, dan meninggalkan sesal yang dalam. Karena di saat-saat penting hidupnya, ia tidak saya dampingi dengan perhatian yang 100%.
Alhamdulillah Ramadhan tiba. Waktu-waktu di bulan mulia itu tidak ingin saya nodai dengan kegiatan duniawi yang nggak penting. Saya pikir, ini saat yang belum tentu akan saya temui lagi tahun depan. Kapan lagi saya mengisinya dengan mohon ampun sebanyak-banyaknya & memperbaiki diri. Apalagi waktu itu flu & batuk saya juga belum sembuh. Setiap habis keluar rumah, langsung batuk2 dan meriang. Maka saya lalu memutuskan istirahat dari aktivitas jualan plastik ini selama Ramadhan.
Jadilah saya punya banyak waktu bersama anak-anak (lagi), punya banyak kesempatan untuk merenungi perjalanan hidup saya, dan bisa lebih khusyuk berdo’a karena tidak diburu-buru aktivitas yang padat.
Sampai sehabis Syawal, saya kontrol kehamilan. Ternyata posisi bayi yang saya kandung, sungsang. Padahal saat itu sudah masuk bulan ketujuh. Dokter menyarankan untuk menghentikan aktivitas berat yang saya jalani, termasuk tidak lagi pergi-pergi naik motor, dan memperbanyak nungging. Maka, sempurnalah sudah niat re-sign saya dari bisnis penjualan langsung itu terlaksana.
Hari-hari selanjutnya, saya sudah tidak mau disibukkan dengan pesanan pelanggan. Saya bilang, “Kalau butuh barang, silahkan ke rumah. Saya sudah nggak bisa ngantar lagi.” Begitu pula kalau ada pesanan, saya katakan, “Kalau saya tidak punya barang yang ibu cari, mohon datang dan pesan sendiri ke kantor…”
Selama di rumah, saya manfaatkan waktu sebaik-baiknya mendampingi & memerhatikan kedua putri saya. Betapa mereka selalu riang & semangat menjalani hari2nya. Nyaris tidak pernah sekalipun mereka pulang menyapa saya dalam keadaan lesu & kuyu seperti saat saya sibuk dulu. Alhamdulillah, bayi yang saya kandung dan tubuh ini pun tidak lagi sakit2an. Rupanya ini jalan yang Allah pilihkan bagi saya sampai saat ini, yaitu jadi ibu rumah tangga saja. Sebuah profesi yang saya & suami tentram dengannya, anak-anak pun riang karenanya. Mudah2an saya bisa menjalani ini dengan sabar. Karena adakalanya saya tidak puas dengan hari-hari yang saya jalani selama ini, mungkin juga saya merasa punya cukup banyak potensi besar yang sayang bila mayoritas hanya dilewatkan di rumah, atau kadang, saya merasa bisa menjadi orang lain…
Tapi kenyataannya, sejauh & setinggi apapun saya mengasah kemampuan diri, hati ini tetap tidak bisa berpaling dari mereka: tiga buah hati yang insyaAllah akan menyusul jadi 4. Karena hati ini berkata: mereka butuh Ibu seperti halnya mereka perlu udara……
Iseng-iseng lihat foto anak-anak, eh.. dapat satu album foto trio embul yang lagi kembul (makan bareng dari satu piring). Begitu lihat momen ini di suatu pagi di rumah kami, spontan si Abi ngambil kamera dan mengabadikannya…
“Bismillaah…”






