Ssst…Keep Calm! We’re Just Married..!

Hari Ahad, 2 Maret 1997. Tujuhbelas tahun lalu lebih 1 bulan 3 hari, saya dan suami menikah. Tidak dalam suasana yang ramai dan meriah. Hanya akad nikah sederhana dengan dihadiri 50 orang lebih sedikit saja. Maharnya pun tak mewah, hanya selembar uang Rp. 10.000,00 saja. Benar-benar minimalis..😀

Tentu saja pernikahan sederhana nan sepi itu bukan terselenggara karena kasus “kecelakaan”, tapi atas permintaan kami berdua. Suami melamar saya tanpa basa-basi saat liburan semester ganjil. Orangtua & saya menerimanya, dan kami tak ingin kembali ke bangku kuliah dalam keadaan masih bujangan! Kami juga tak mau orangtua kami dibebani & dipusingkan oleh acara pernikahan yang hiruk pikuk. Begitulah asal muasal terjadinya pernikahan kami yang tenang & damai itu.

Bapakku dan bapak dari anak-anakku berjabat tangan saat Ijab Qabul

Meski hanya diiringi oleh 10 orang yang semuanya lelaki, suami tampak PD dan sangat mantap saat prosesi ijab qabul. Tak sedikit pun ia melakukan kesalahan dalam ucapan qobiltu-nya. Tak kalah lantang pula suaranya dibanding suara bapakku. Bedanya, hanya sedikit bergetar. Maka saat kata-kata, “….. bil mahril madzkur” usai diucapkannya dan para saksi berseru, “Sah..sah!”, babak baru dalam kehidupan kami berdua pun di-mu-la-i…

Hari-hari di tahun-tahun awal pernikahan kami segera menjelma jadi luar biasa. Sebelum menikah kami bukanlah teman, sahabat, TTM, apalagi pacar. Kami hanya sekedar tahu, “Oo..anak itu..” Maka modal pengetahuan kami tentang sifat & kebiasaan satu sama lain sangat minim, tak lebih dari 1 %. Itulah makanya menjadi hal yang sangat luar biasa bagi kami untuk bisa mengenali sifat, memahami, dan menerima 99% sisanya.

Alhamdulillaah, kami segera dikaruniai seorang putra, Khalid namanya. Amanah yang lebih besar di depan mata ini membuat kami tak punya banyak waktu untuk memikirkan kekurangan pasangan. Apalagi dengan kehadiran putri kami Aufa di tahun ke-3 pernikahan kami, lalu diikuti lahirnya Yasmina di tahun ke-5. Maka 5 tahun pertama penyesuaian diri suami istri yang konon merupakan masa-masa sulit nan rawan , menjadi makin kompleks bagi kami.  Tak mudah memang, tapi dengan mengambil tauladan ketenangan dari rumah tangga Rasulullah saw., serta atas berkat rahmat & pertolongan Allah SWT, semua itu bisa kami lalui dengan lancar dan happy.

Ka-ki: Khalid, Farah (digendong), Yasmina, Tsabita (dipangku), Aufa.

Kini usia pernikahan kami baru seperti remaja yang sedang mekar. Putra putri kami pun baru beranjak remaja. Jumlahnya pun tak lagi 3, tapi 5. Masalah dalam pernikahan & kehidupan telah -dan tentu masih akan- silih berganti menyapa kami. Sembari berusaha selalu tetap tenang, kami terus meneguhkan keyakinan bahwa Allah SWT tak menjadikan segala persoalan hidup itu terjadi tanpa makna & tujuan. Allah SWT juga tak pernah mengabaikan do’a hamba yang memohon kepada-NYA. Maka hanya kepada Allah Rabbul ‘Izzati sajalah kami menyandarkan segala urusan kehidupan & pernikahan kami. Dan hanya kepada Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang lah kami memohon agar senantiasa menyatukan hati-hati kami dalam cinta kepada-NYA dan dalam ta’at kepada-NYA, yang akan menuntun kami terus berbagi kehidupan dalam rumah tangga ini dengan tenang sampai maut memisahkan.

Mungkin Allah SWT akan melanjutkan usia kami hingga sempat menyaksikan putra-putri kami menikah & berkeluarga, hingga membuat keluarga kami yang sekarang berjumlah tujuh makin membesar hingga berjumlah sebelas, dua belas, dst.. Tapi mungkin juga tak sampai saat itu tiba, IA sudah memanggil kami ke alam kubur. Wallahu-a’lamu bisshowwab. Tapi potongan-potongan gambar dan tulisan ini semoga dapat mengukuhkan kenangan bagi mereka tentang bagaimana kami membangun keluarga, mengokohkan bangunannya dan menjaganya. Dan tak lupa untuk selalu menyandarkan segalanya pada Sang Maha Kuasa.

Sssst…keep calm! We’re just married…!

 

 

 

 

Jangan Sombong

Seorang tokoh sebuah partai Islam pernah mendapat kritikan pedas bertubi-tubi karena ucapannya yang bernada melecehkan atau merendahkan kalangan tertentu. Begitu banyak kritikan yang dituainya dari media massa dan forum-forum di internet. Ia dianggap sombong karena melecehkan kemampuan orang lain. Dalam pergaulan sehari-hari pun, tidak jarang pula kita bertemu dengan orang-orang yang suka merendahkan orang lain atau suka memperlihatkan “kelebihan” dirinya. Orang yang demikian juga dianggap sombong.

Gaya, perilaku, dan perkataan yang sombong seperti itu sangat mudah dikenali sehingga secara normatif juga mudah dihindari. Tetapi ada kesombongan yang tersamar dan bahkan mungkin tidak disadari. Munculnya di dasar hati dan berpotensi menjadi kerak yang sulit dihilangkan bila tidak rajin mengikisnya. Padahal Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23). Dan Rasulullah Saw. Bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sekalipun sebesar biji dzarrah.” (HR. Muslim, at-Tirmidzi dan Abu Daud).
Maka setiap muslim wajib mengetahui beragam bentuk kesombongan dan berusaha menghindarkan diri dari sikap yang merugikan tersebut.

Makna Sombong
Sombong adalah sifat merasa diri berbeda daripada orang lain karena keyakinan bahwa dirinya memiliki keunggulan atau kelebihan dibanding orang lain. Keyakinan itu demikian kuatnya, sehingga secara sadar atau tidak telah mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang, membuatnya terlalu percaya diri dan merasa dirinya “penting”.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sombong diartikan sebagai menghargai diri secara berlebihan; congkak; pongah. Sementara dalam psikologi, orang dikatakan sombong bila ia cenderung mementingkan dirinya sendiri, kurang peka bahkan tidak memedulikan orang lain.

Dalam al-Qur’an sikap sombong disebutkan dalam beberapa kata, antara lain istakbar, al-‘izzah, mukhtaal, maroha, ‘uluww, rahaqa, jabbaar, dan ‘ujub. Maknanya pun menjadi lebih luas dari sombong. Salah satunya seperti sabda Rasulullah Saw., “Al-kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim). Allah SWT dalam al-Qur’an memberi predikat “orang-orang yang sombong” atau perilaku “sombong” pada:

  • mereka yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir serta enggan menafkahkan sebagian rizqi yang Allah berikan
  • menyekutukan Allah
  • mengabaikan peringatan Nabi/Rasul
  • mendustakan kebenaran
  • menghalangi orang dari jalan Allah
  • kikir dan menyuruh orang lain bersikap kikir
  • melampaui batas dan ragu-ragu
  • lalai, bersuka ria dalam kemaksiatan
  • memalingkan muka dari manusia
  • membanggakan diri

Janganlah Sombong
Jika demikian luasnya yang dimaksud dengan kesombongan maka banyak hal yang harus diperhatikan dari diri kita. Jangan-jangan terdapat satu bentuk kesombongan di antara yang tersebut di atas. Meskipun hanya setitik, kesombongan harus segera dibersihkan dari hati. Sebab sombong adalah penyakit yang bisa mengeraskan hati sehingga menyebabkan tidak mau atau sulit menerima kebenaran. Kalaupun mau menerima, mereka melihat dulu siapa yang bicara. Orang sombong hanya mau memperhatikan orang lain yang tampak “lebih” dari dirinya. Contohnya, orang yang meragukan perintah dari Qur’an dan Sunnah, orang tua yang meremehkan perkataan anak kecil meskipun benar, pejabat yang mengabaikan peringatan bawahannya, guru yang menganggap bodoh muridnya, majikan yang tidak menghormati pembantunya, kelompok yang merendahkan kelompok lainnya.

Lebih disayangkan lagi bila yang bersikap meremehkan adalah sebuah komunitas “ngaji” ataupun individu anggotanya. Sebab seringkali tanpa disadari, kesombongan akan amal sholeh begitu mudah menyelusup di hati hingga membuat seseorang merasa lebih baik dan lebih suci dari orang lain. Padahal saat ada perasaan seperti itu sesunggguhnya orang yang meremehkan tidak lebih baik dari yang diremehkan. Kata pepatah, “Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuh mata tidak tampak.”

Karena itu, meskipun Allah telah menjelaskan kriteria manusia yang beriman dan bertakwa kepada-Nya, tetaplah tidak ada seorangpun yang berhak mengklaim dirinya sebagai orang yang paling beriman dan takwa. Allah berfirman, “……Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS.An-Najm:32). Rasulullah Saw menunjuk dadanya saat menjelaskan tempat bersemayamnya takwa. “Takwa itu di sini, takwa itu di sini, takwa itu di sini,” sabda beliau. Karena takwa tempatnya di hati, maka tidak ada yang bisa mengetahui isi hati orang lain kecuali Allah SWT saja.

Sombong Hanya Hak Allah SWT
Maka yang berhak sombong hanya Allah SWT. Dalam al-Qur’an Allah SWT menantang orang-orang yang sombong, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan setinggi gunung.” (QS. Ali Imran:37) Tidak ada yang layak disombongkan oleh manusia. Sebab tanpa karunia dan rahmat Allah, manusia sejatinya sangat lemah. Allah lah yang memberi kebaikan pada manusia. Allah berfirman, “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus:107) . Ini berarti bahwa, sebanyak apa pun kebaikan yang dimiliki seseorang semuanya adalah pemberian Allah dan terjadi hanya atas kehendak-Nya.

Jelaslah bahwa segala kebaikan dan mudharat yang menimpa manusia adalah atas kehendak Allah SWT semata, maka tidak ada satu kebaikan pun yang patut manusia banggakan. Kemuliaan seperti kekuasaan, harta benda dan berbagai kenikmatan itu adalah cobaan dan ujian dari Allah agar tampak bukti syukur orang yang pandai berterima kasih dengan bukti kufur dari orang yang suka mengingkari nikmat. Sebagaimana ucapan Nabi Sulaiman as tatkala melihat singgasana Ratu Balqis berada di sisinya, “Ini adalah karunia dari Rabb-ku untuk menguji diriku. Apakah aku bisa bersyukur ataukah justru kufur.” (QS. An Naml: 40).

Pun demikian halnya dengan berbagai bentuk musibah yang menimpa manusia, adalah ujian dari Allah untuk mengetahui siapa yang tetap dalam kesabaran dan kesyukuran. Allah berfirman, “Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaannya) bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur.” (QS.Asy-Syuura:33). Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman, ”Tidaklah setiap orang yang Aku lapangkan (rezekinya) dan Aku muliakan kedudukan (dunia)-nya serta Kucurahkan nikmat (duniawi) kepadanya adalah pasti orang yang Aku muliakan di sisi-Ku. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rizkinya dan Aku timpakan musibah kepadanya itu berarti Aku menghinakan dirinya.”


Iseng-iseng Berhadiah!

“Masa lalu adalah sejarah, masa depan adalah misteri. Dan hari ini adalah anugerah ”

“Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah kau akan mati besok.”

Saking terkesan sama petuah di atas, iseng-iseng saya merenung. Tiba-tiba…. mak-think! Dapat deh makna-makna di bawah ini. Coba aja dibaca, siapa tahu ada yang cucok di hati…

1. Nggak usah terburu-buru mengejar dunia. Karena toh, kita akan hidup selamanya. Jadi nggak perlu sedih saat sebuah peluang usaha terlewat dari kita. Atau saat pekerjaan menumpuk dan bos meminta kita menyelesaikan semuanya hari ini. Bilang saja, “Besok kan masih bisa Boss…” 😀

2. Segera minta maaf bila punya salah, dan ngaku aja. Nggak usah berbelit-belit ngeles mencari pembenaran diri. Waktu kita nggak cukup banyak, lho. Wong besok sudah mati. Apalagi kalau punya kreditan, segera dilunasi dan jangan ambil kredit lagi….  :)    *dibenci bankir dan agen leasing*

3. Yang lalu biarlah berlalu. Kalau pernah disakiti, lupakanlah. Jadikan pelajaran hidup saja, tanpa dendam tanpa luka. Niscaya setiap hari kita akan selalu bahagia.

4. Jangan bikin terlalu banyak janji biar hidup kita aman dari hutang  janji. Soalnya bahaya juga kalau nggak bisa menepati, wong besok mau mati. Kalau ada teman yang maksa minta kita mau berjanji bilang saja, “Nggak usah janjian deh…. kalau kamu besok pagi mati duluan, gimana? Kan percuma Say….” 😀😛

5. Masa depan adalah misteri. Jadi nggak usah terlalu dipikirin, apalagi didukunin minta diramal segala. Dukunnya sendiri nggak tahu masa depannya kayak apa. Bayangkan kalau dukun memang benar-benar tahu apa yang akan terjadi, hidup pasti tanpa ekspresi dan nggak perlu ada jurusan psikologi. Jadi nggak ada kaget-kagetnya, Pren! Nggak seru kan..

6. Setiap hari kita pasti mendapat lebih dari satu macam pemberian. Apakah itu uang, senyuman, pujian, hiburan, nasehat, kasih sayang, bahkan bisa jadi menang undian. Maka apa pun yang diberikan pada kita hari ini, tulus lah berterimakasih. Barang siapa yang diberi sedikit/banyak suka berterimakasih dengan tulus, pasti disukai oleh Sang Pemberi. Berikutnya bisa dipastikan, besok diberi “jatah” lagi….  *asyiiik*

7. Bergaul lah dengan sebanyak mungkin orang. Menjalin pertemanan dan persaudaraan. Berkenalan dengan orang-orang baru. Sebab kalau cuma punya sedikit teman, bisa saja saat kita mati nanti, teman kita juga sudah pada mati. Terus siapa yang mau nggotongin mayat kita ke liang kubur? Nggak mungkin kan, jalan sendiri….  *hiiiy*

8. Banyak-banyaklah memberi pada orang lain dengan tulus ikhlas. Dan nggak perlu khawatir kehabisan bahan untuk diberikan. Ini seperti investasi masa depan, Kawan! Sebab terbukti, orang yang banyak memberi nggak ada yang hidup sengsara. Jadi kalau pengen punya masa depan secerah sinar mentari, “Jangan pelit, dunk!”  *terutama pada saya ya..*

9. Bila karir atau usaha nggak menunjukkan kemajuan alias jalan di tempat, jangan panik. Tenangkan diri dan berpikir positif . Nggak perlu menyalahkan letak usaha atau pihak manajemen. Ingat! Kita akan hidup selamanya. Jadi kalau nggak dapat untung hari ini, besok-besok pasti. Tetap semangat berkarya dan jangan putus asa, Bro! 🙂

10. Apa yang kita lakukan kalau besok bakal mati? Biasanya sih, hari ini lalu banyak-banyak do’a mohon ampun dan minta supaya matinya enak, nggak sakit dan nyusahin. Kapan lagi tobat kalau bukan hari ini, ya kan? Trus, jadi baik-baik dan sayaaang banget sama orang-orang terdekat karena mau berpisah.  So, tobatlah setiap hari dan sayangi orang-orang di sekitar. Dijamin kita nggak akan mati penasaran, apalagi gentayangan…   *ouu tatuuut…* 😦

Nah, gimana hasil perenungannya? Mudah-mudahan beneran bisa diambil hikmahnya. Thanks ya, sudah mau baca karya iseng-iseng berhadiah ini…. Atau mau nambahin? Boleh…

Untuk Ayah: Antara Mbak Sri, Saya, Richa Novischa, dan John Terry

Pagi ini, sedikit khawatir saya melepas kepergian suami berangkat ke kantor. Sebab ia sedang sakit flu. Sepertinya, tubuhnya sudah tak mampu lagi menanggung capek yang sangat, setelah +/- seminggu ini mengantar & menemani kami, anggota keluarga yang dipimpinnya, bepergian kesana kemari.
Sejak Sabtu, 23 Januari lalu, kami sekeluarga telah melakukan perjalanan yang cukup panjang dan berentetan. Dari Sidoarjo ke Malang, terus ke Kediri. Hari Ahad lanjut ke Magetan, balik Kediri lagi. Istirahat sehari di rumah ibu Kediri, esoknya pulang ke Sidoarjo. Besoknya lagi sudah ngantor lagi di Surabaya-Sidoarjo pp sampai Jum’at. Sabtunya silaturahmi sambil ngantar tupperware ke rumah kakak di Surabaya, terus lanjut putar-putar belanja kebutuhan Mas Khalid. Ahad pagi sudah berkendara lagi ke Dau-Malang, ngantar si Mas balik ke asrama SMP Ar-Rohmah Putra.
Semua perjalanan itu 90% memanfaatkan jasa si “Hejo” kesayangan kami, Hardtop Diesel keluaran tahun 1976. Dan itu berarti: Abi (ayah) yang berada di balik kemudi…..
Sepanjang perjalanan dan selama liburan sekolah kemarin, sungguh berkesan bagi saya, dan “Khalid and the Gang”. Mulai acara terima rapor Mas, pesta kebun di rumah Tante Dini-Om Herfin, “ngariung” makan duren sama Mamak di Kediri, main ke sawah dan sungai dekat rumah Om Andri di Magetan, belajar beladiri, main PS bersama di rumah Pakdhe Yasir-Budhe Ragil, lalu… hujan-hujan makan bakso di beranda Masjid Al-Upyuk-upyuk…… What a wonderful vacation! Thank U very very mmmuah Abi….

Padahal beberapa minggu sebelum liburan sekolah itu, si Abi harus bolak-balik dinas ke luar kota. Sampai kantor pun masih dipusingkan dengan proyek akhir tahun unit kerjanya. Belum lagi kesibukannya dengan berbagai urusan seputar bisnis Kambing-Domba dan perkebunan yang dirintisnya. Jelas sekali, ia telah bekerja keras dalam menunaikan tanggung jawab di pundaknya. Kadang2 saking khawatirnya, saya pegang kepalanya dan bertanya padanya, “Nggak kepanasan nih otak Abi mikirin banyak urusan kayak gini…?”

Tapi, tak sedikitpun kelelahan ia tampakkan pada kami, istri & anaknya, saat liburan menjelang. Rencana bepergian pun kami susun, berikut minimisasi anggarannya. Dan, si Abi siap menanggung semuanya…..!!!  Lalu, bergulirlah dengan indah, pengalaman liburan di awal tahun 2010 ini, seperti yang tersirat dari cerita di atas.

Pagi ini, seperginya suami ke kantor, tiba-tiba saya bayangkan sosok Mbak Sri, teman ngaji saya yang bekerja menjajakan kue keliling di daerah tempat tinggal kami. Suaminya menceraikannya tanpa alasan yang jelas, saat bayi pertama mereka baru berusia 5 bulan. Sejak saat itu, dengan tabah Mbak Sri bekerja sendiri menghidupi segala kebutuhan keluarga kecilnya, karena ayah dari anaknya itu tak memberi santunan bagi kehidupan putranya. Bahkan, menghilang tanpa kabar berita. Tak terasa 9 tahun sudah Mbak Sri telah menjadi single parent. Putra semata wayangnya tak sempat tahu dan mengingat bagaimana wajah ayahnya, apalagi merasakan kebahagiaan dari ayah seperti yang anak-anak saya rasakan. Mbak Sri adalah satu diantara beberapa teman ngaji saya yang juga punya kisah tidak menyenangkan dalam perjodohannya di dunia ini.

Menyadari kisah seperti Mbak Sri dan melihat pada diri suami dan ayahanda saya sendiri, maka membuat saya semakin saaangat bersyukur pada Allah SWT. Segala puji bagi-Nya yang telah melahirkan saya dari ayah yang luar biasa, lalu memberi jodoh dengan suami sebaik & sehebat si Abi. Terasa sungguh, betapa sosok suami & ayah yang bertanggung jawab pada keluarganya begitu berharga. Sangat berharga, layaknya permata perhiasan dunia.

Maka bagi saya, tak apalah tak punya penampilan secantik dan seindah Richa Novischa yang kini sedang gundah gulana karena ulah suaminya. Pun, tak apa juga tak punya suami segagah dan sekaya John Terry si Kapten Chelsea, yang diam-diam suka “cem-ceman” juga. Karena memang, penampilan fisik bukan jaminan untuk mendapat cinta dan kasih sayang. Dan kekayaan materi sama sekali bukan alat ukur kebahagiaan……

Tak hendak kami ingkari nikmat yang luar biasa ini dengan perilaku durhaka pada Sang Maha Pemberi. Mahasuci Engkau wahai Tuhan kami, dan dengan memujiMu wahai Tuhan, ampunilah kami.

To  my beloved husband ‘n the best father 4 our children, jazakallahu bi ahsanil jazaa. Cepat sembuh, ya Bi…

Diriku: Ini Salah Itu Salah……REWEL!

Ternyata, buat saya, sulit sekali menyusun kata-kata yang tepat tentang diri sendiri. Sampai sekarang, saya masih belum berhasil memuaskan diri dengan apa yang saya tulis di space “write about yourself”-nya profil fesbuk saya.
Setiap selesai nulis, saya baca lagi, kok nggak pas rasanya. Lalu saya hapus. Nulis lagi, baca lagi. Kok nggak enak ya, kayaknya menggambarkan orang yang gimanaaaa…gitu. Hapus lagi. Nulis lagi. Baca lagi. Bikin yang simple saja. Eh, dibaca kok seperti nggak berarti banget dan kurang mencerminkan sisi lain diri saya. Wah…repot dah pokoknya. Sepertinya potongan lagu dangdut jadul di atas memang lebih pas menggambarkan sejatinya diri saya. Ini salah, itu salah….REWEL!
Bukan hanya itu saja. Saat menulis untuk me-reply message atau comment dari teman-teman, baik itu di HP, maillist, facebook, atau blog, saya juga sering merasa kesulitan. Pasti bolak-balik di-edit agar tertulis jawaban yang tepat, enak dibaca, dan nggak bikin tersinggung. Pokoknya anti “sengak” dan tidak pake nyombong. Kalau topiknya lucu, musti lucu juga. Kalau serius, harus serius juga. Maka sempurnalah sudah keribetan itu.
Nah, setelah selesai dengan editan terakhir yang penuh kepasrahan daripada nggak bales…, biasanya saya beranikan untuk send it. KLIK!! Lalu terpampanglah kata-kata yang sudah saya susun dengan penuh perjuangan itu di ruang publik. Puas??
Blasss….. saya malah lebih sering merasa “gagal” dengan postingan itu daripada merasa enjoy…. Sepertinya, kalau saya baca-baca lagi, komen atau riplai saya tuh sering nggak nyambung dengan obrolan si teman. Nah, lho! Jangan-jangan, memang sebetulnya saya nggak ngerti apa yang dibicarakan……
Waaaa….
Tapi untungnya -Alhamdulillah- saya selalu punya kelembaman yang cukup untuk meredam campuran rasa malu+o’on itu. PD, begitulah…
Jadinya, setelah berduka cita barang beberapa menit, biasanya saya terus bisa ceria lagi, kirim komentar lagi… Dan yang paaaling saya senang dari fesbuk adalah: ada layanan kirim jempol! Soalnya, saat sedang diburu deadline (halah…) kirim komentar tapi lagi nggak ada ide, atau ya REWEL itu tadi…maka si jempol bisa menyelamatkan ikatan tali pertemanan & persaudaraan. Hidup Jempol! I L U….
Tentang urusan balas membalas komen dan sms ini, suami punya kesan tersendiri terhadap saya. Heran (campur prihatin mungkin)…. “Nulis komen aja lama…”, gitu katanya sambil tersenyum lebar…. Yah, inilah diriku Say….: REWEL!   Alhamdulillah, astaghfirullah…..:)

(1. Postingan ini terselenggara atas kerjasama Tsabita yang tidur pulas setelah dimandikan; 2. Betapa ribetnya kalau musti menulis setiap kata yang tidak baku secara Italic)

Dahsyatnya Air Susu Ibu (ASI)

Kalau hari ini masih ada orangtua -terutama ibu- yang masih menyangsikan dahsyatnya manfaat ASI, sungguh hal itu amat disesalkan. Dan, apabila saat ini masih ada ibu yang enggan menyusui bayinya secara eksklusif, menurut saya yang demikian itu sungguh amat menyedihkan. Bahkan saya beri predikat “amat sangat menyebalkan” jika ditambah embel-embel mengagungkan susu sapi formula plus suplemen ini-itu produksi pabrik.

Kayaknya saya dongkol berengkol banget ya, sama mereka yang punya pikiran melecehkan ASI. Lebih tepatnya, gemas sekali. Sebab selama ini secara pribadi, saya telah merasakan betapa ASI luar biasa manfaatnya bagi perkembangan anak-anak saya. Dan pengalaman itu bukan apa-apa dibandingkan jutaan artikel yang mengupas manfaat ASI bagi bayi, seiring dilakukannya ribuan penelitian ilmiah seputar keunggulan ASI oleh para pakar. Jadi menurut saya, keutamaan menyusui bayi dengan ASI secara eksklusif sudah tak terbantahkan.

Inilah diantaranya poin-poin penting yang telah banyak diteliti dan membuktikan bahwa ASI anugerah Ilahi ini begitu dahsyat.

Pertama, karena kandungan kolostrum yang hanya diproduksi dalam 24-36 jam pertama setelah melahirkan. Paling tidak ada 4 manfaat kolostrum pada ASI yang sangat berguna bagi bayi.

  1. Kolustrum mengandung zat kekebalan terutama imunoglobin A (lgA) untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare.
  2. Jumlah kolustrum yang diproduksi bervariasi tergantung dari hisapan pada hari – hari pertama kelahiran. Walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi gizi bayi. Oleh karena itu kolustrum harus diberikan pada bayi.
  3. Kolustrum mengandung protein, vitamin A yang tinggi dan mengandung karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kkebutuhan gizi bayi baru lahir.
  4. Kolostrum membantu mengeluarkan mekonium yaitu kotoran bayi yang pertama berwarna hitam kehijauan.

Kedua, karena komposisi protein dalam ASI seimbang-sempurna bagi bayi. Perbandingan whey dan casein dalam protein ASI tepat sesuai bagi bayi manusia.

ASI mengandung whey (protein utama dari susu yang berbentuk cair) lebih banyak daripada casein (protein utama dari susu yang berbentuk gumpalan) dengan perbandingan 65 : 35. Komposisi ini menyebabkan protein ASI lebih mudah diserap oleh tubuh bayi.
Sementara, susu formula, protein susu sapi tidak mudah diserap karena mengandung lebih banyak casein. Perbandingan whey dan casein dalam susu sapi adalah 20 : 80.

Ketiga, ASI mudah dicerna.

  • ASI mudah dicerna bayi karena mengandung enzim-enzim yang dapat membantu proses pencernaan, antara lain lipase (untuk menguraikan lemak), amilase (untuk menguraikan karbohidrat), dan protease (untuk menguraikan protein).Sisa metabolisme yang akan diekskresikan (dikeluarkan) melalui ginjal pun hanya sedikit, sehingga kerja ginjal si kecil menjadi lebih ringan. Metabolisme ini penting karena merupakan proses pembakaran zat-zat di dalam tubuh menjadi energi, sel-sel baru, dan lain-lain.
  • Susu formula sulit dicerna karena tidak mengandung enzim perncernaan, sebab serangkaian proses produksi di pabrik mengakibatkan enzim-enzim pencernaan tidak berfungsi. Akibatnya pada bayi, lebih banyak sisa pencernaan yang dihasilkan dari proses metabolisme, yang membuat ginjal bayi harus bekerja keras.
  • Pada bayi prematur, ASI ibu juga sesuai dengan kebutuhan bayinya. Kandungan proteinnya lebih tinggi dan lebih mudah diserap sehingga bayi lebih cepat tumbuh berat badan maupun sel otaknya.

Keempat, ASI 100% alami. Bandingkan dengan susu formula yang nyaris 100% sintetis.

Susunan kimiawi susu sapinya tidak begitu banyak karena mayoritas mengandung prebiotik, DHA.  Itulah sebabnya mengapa disebut susu formula dan bukan susu sapi. Susu sapinya sendiri diolah dengan temperatur tinggi, nilai gizinya dipertanyakan.

Kelima, secara psikologis aktifitas menyusui bayi dengan ASI membuat bayi dan ibu lebih dekat secara fisik maupun emosi.

Hasil penelitian Dr. Scott Montgomery, ahli epidemiologi di Karolinska Institute Swedia: bayi-bayi yang disusui oleh ibunya akan tenang dan tidak mudah gelisah untuk waktu yang lama. Bahkan setelah mereka disapih mereka lebih kuat menghadapi situasi yang bisa membuat stres.

Keenam, ASI selalu segar dengan citarasa bervariasi.

ASI tak bakalan basi sebab ASI selalu diproduksi oleh pabriknya di wilayah payudara. Bila gudang ASI telah kosong, ASI yang tidak dikeluarkan akan diserap kembali oleh tubuh ibu. Jadi, ASI dalam payudara tak pernah basi dan ibu tak perlu memerah dan membuang ASI-nya sebelum menyusui. Cita rasa ASI-pun bervariasi sesuai dengan jenis senyawa atau zat yang terkandung di dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi ibu.

Ketujuh, menyusui bayi dengan ASI memberikan keuntungan balik pada kondisi fisik ibu, antara lain:

  1. Hisapan bayi membantu rahim menciut, mempercepat kondisi ibu untuk kembali ke masa pra-kehamilan dan mengurangi risiko perdarahan
  2. Lemak di sekitar panggul dan paha yang ditimbun pada masa kehamilan pindah ke dalam ASI, sehingga ibu lebih cepat langsing kembali
  3. Penelitian menunjukkan bahwa ibu yang menyusui memiliki resiko lebih rendah terhadap kanker rahim dan kanker payudara.

Daaan….. masih banyak lagi hasil penelitian para ahli di dalam dan luar negeri yang membuktikan betapa dahsyat manfaat ASI bagi bayi/anak manusia. Makanya, hari gini… masih sangsi sama ASI?? Jangan lah Bun…

Lalu bagaimana dengan pengalaman pribadi tadi? Nggak penting untuk dibahas, tapi asal tahu saja, saya bersyukur dan bahagiaaaa sekali saat ditunjukkan oleh perawat yang menimbang badan Tsabita sebulan setelah kelahirannya. 3, 4 kg!! Itu berarti naik 900 gram dari berat lahirnya yang hanya 2500 gram. Alhamdulillah, Allahu Akbar! Benar-benar tidak ada keraguan pada kebesaran Allah SWT dan apa yang diturunkan-Nya melalui Muhammad Rasulullah Saw, Al-Qur’an.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233)

Pantaslah DIA perintahkan para ibu untuk menyusui anaknya sebab bukanlah ibu yang memutuskan untuk membuat ASI. Bukan pula para ibu yang menyusun komposisi dan menentukan kandungan nutrisi dalam ASI. Tetapi Allah Yang Maha Kuasa-lah yang IA Maha Mengetahui kebutuhan setiap makhluk hidup ciptaan-Nya dan memperlihatkan kasih sayang-NYA kepada kita, manusia, dengan menciptakan ASI di dalam tubuh para ibu. Maka sempurnalah kedahsyatan ASI……

Sumber:

1. Puslitbang Gizi & Makanan – Menakar Nutrisi ASI
2.ASI vs Susu Formula – Media Sehat
3. WawasanDigital – Asi atau susu formula?
4. Ikatan Dokter Anak Indonesia: Bukti Ilmiah Terbaru Tentang Manfaat ASI
5. Manfaat ASI – Asuh Indonesia
6. Harun Yahya – Artikel – Cairan Ajaib: Air Susu Ibu

Kumpul Bocah

Sabtu malam Minggu kemarin seneng banget saya. Empat anak ngumpul di rumah. Khalid, Aufa, Yasmina, Tsabita. Mereka “nglumpuk” bareng mengerubungi si kecil yang kini jadi bintangnya, Tsabita….
Si mas minta diajari nggendhong. Begitu masnya diberi ijin nggendhong, Aufa “meri” minta dibolehin nggendhong. Yasmin juga…., wah cape de….:-)
Kasihan Tsabita bolak-balik pindah tangan, badannya kayak ter-ongkek-ongkek akibat kekakuan mas & mbaknya belajar nggendhong.
Sebagai ibu, saya cuma bisa kasih ijin, ngajari, sambil berdo’a semoga tidak terjadi apa-apa dengan adiknya. Alhamdulillah (sepertinya) tidak terjadi kerusakan di tubuh Tsabita….
Sayangnya abinya harus dinas keluar kota sejak Jum’at sampai Rabu (InsyaAllah), jadi nggak bisa ikut menikmati momen indah “kumpul bocah” itu. Tapi rupanya, nggak sia-sia kepergiannya ke Bandung karena ternyata ada kejutan indah juga buatnya di sana. Alhamdulillah….

Kembali ke keceriaan para bocah itu.

Sejak Kamis saya sudah menyiapkan bahan-bahan untuk acara kumpul bocah ini. Ayam 2 kg. (Hah??, pantesan pada genduts…:)). Sampai tetangga sebelah tanya, “Buat apa Bu Walid, kok banyak? Mau ada acara tahun baru?” Secara, pas belinya kan tanggal 31 Des’09 kemarin… Saya jelaskan pada beliau kalu itu buat persiapan Khalid pulang di akhir pekan.

Tak lupa saya belanja tempe, kacang tanah, teri, wortel, sosis, tepung terigu, tepung beras, dan tepung bumbu. Nggak ketinggalan, aneka camilan dan kacang hijau. Ya, saya sudah janji pada mereka bertiga mau bikin ayam goreng kentaki. Lengkap dengan sopnya. Plus minuman sehat, es kacang hijau….

Hmmm… Aufa & Yasmin sampai ngiler dibuatnya. Tapi mereka bersabar sampai Mas-nya datang. Meskipun Yasmin kelihatan sudah ngantuk dan saya persilahkan makan dulu, tapi dia bilang, “Aku mau nunggu Mas kok… aku pengen lihat Mas datang…, soalnya yang dulu Mas pulang aku kan tidur jadi nggak tahu…”

Alhamdulillah jam 20.15 Khalid nyampe rumah. Adik-adiknya langsung berebutan cium tangan dan pipinya. Setelah ngobrol sebentar dan acara ngerubuti Tsabita & gendhong2an seperti tergambar di awal tulisan ini selesai, lalu dibukalah acara makan-makannya.Ada ayam goreng tepung, kering tempe manis, cah sawi hijau (untuk ibu&Tsabita), sop wortel sosis, dan es kacang hijau.

Ketiga anak itu makan dengan lahap. Tsabita ikut ditidurkan di kursi tamu, biar dia nggak sendiri di kamar. Meskipun mas & mbaknya ribut “klothak-klothek” makan, dia “anteng”. Sepertinya dia merasa senang juga. Saya apalagi…..damaiii banget lihat ke-4 anak itu. Sejuk di mata & di hati. Alhamdulillah… terimakasih ya Allah atas anugerah nan indah ini….